Success story Nova Era Yanti : TIDAK MUDAH MENYERAH
Tangerang Banten ikatip.co.id -
Kesuksesan sering dimulai dari keberanian dan itikad kuat untuk merubah keadaan, meskipun melalui berbagai rintangan yang harus dihadapi. Ibarat sebuah peruntungan, semua harus dilakukan untuk berhasil.
Kegelisahan untuk memutuskan mengadu nasib di ibukota dialami Nova Era Yanti. Ia diskusikan bersama dua sahabatnya Dona dan Elfia, setelah sama-sama berhasil menamatkan kuliah jurusan kimia analis di Akademi Teknologi Industri Padang pada tahun 2000. Dorongan keinginan untuk melakukan sesuatu mengalir keras jika ingin nasib beruntung mengejar impian. Tidak butuh lama mereka berembug berangkat bertiga ke Jakarta, meskipun belum terbayang pekerjaan apa yang akan didapat.
Era dan teman-teman bersyukur menyimpan nomor telepon beberapa alumni seniornya dan dapat mengunjungi alamat sekretariat pengurus organisasi alumni Ikatip Jakarta, dengan ikhlas memandu dan memberikan perhatian , bahkan dapat tinggal sementara di kantor sekretariat yang merangkap seperti rumah tersebut meskipun dengan fasilitas yang terbatas. Ia dan teman-temannya pun pernah diberi modal oleh seniornya membuat sabun untuk di jual ke hotel ditempat salah satu seniornya bekerja, meskipun akhirnya gagal. Sabun yang dibuatnya tidak berbusa bahkan gatal saat dipakai. Bisa jadi cara membuatnya salah, kenang Era. Hubungan kealumnian di Jakarta saat itu menurutnya memang penuh kekeluargaan.
Rasanya setiap hari berkeringat mencari perusahaan yang bisa menampungnya bekerja, tutur wanita muda berkulit sawo matang yang senang dipanggil Era, saat mengingat sulitnya mencari pekerjaan. Keberuntungannya bekerja menjadi sales medical representative di perusahaan farmasi hanya berlangsung beberapa minggu. Berbeda dengan kedua temannya yang mendapatkan pekerjaan lain.
Sukses Usaha Percetakan
Penampilannya yang feminis tidak mencerminkan keberanian dan tekadnya yang besar. Modal Lima Juta rupiah yang diberikan oleh orang tuanya digunakan untuk sewa warung kecil di pinggir jalan raya di kawasan Tangerang, mengikuti jejak adiknya yang lebih dulu menjual jasa pembuatan plat nomor kendaraan dan stample, serta cetakan sederhana. Sambil melengkapi contoh barang apa saja yang bisa dijajakan isi dalam etalase warungnya. Ia hanya menerima pesanan. Sebagian pesanan dikerjakan sendiri seperti pembuatan nomor plat kendaraan. Cetakan dikerjakan di tempat lain. Ia hanya ambil selisih dari nilai pesanannya. Warung itu juga dijadikan sekaligus tempat tinggalnya. Era benar-benar merintis usaha cetakan di pinggir jalan.
Beruntung mendapat bimbingan dari kawan pelaku usaha senior yang sama. Ia mulai paham bagaimana melayani pesanan dan memproduksinya. Dari pesanan ke pesanan mampu ia tangani dengan baik. Keuntungan usahanya meningkat tajam hingga mampu membeli permesinan yang dibutuhkan. Bangunan kantor yang merangkap pabrik pun ia dapati dengan sangat cerdas. Ia membeli tanah dan bangunan rumah yang tidak jauh dari toko yang digunakannya, dengan cara mengagunkan aset yang akan dibelinya. Kebetulan harga taksiran bank jauh lebih tinggi dari nilai aset yang akan ia beli. Selain mendapatkan tanah dan bangunan yang cukup besar dipinggir jalan raya tersebut, Era juga mendapatkan selisih dari kebutuhan kreditnya yang digunakan untuk menambah mesin-mesin cetakan baru. Ia berhasil membangun industri cetakan diatas tanah dan bangunannya sendiri.
Nasib Era selalu mujur. Tidak begitu lama ia tempati gedung baru usaha cetakannya, ternyata salah satu perusahaan provider selular menunjuk lokasi bangunan era sebagai lokasi terbaik untuk penempatan BTSnya. Al hasil, provider dimaksud harus menyewa lahan atap bangunannya untuk penempatan unit BTS selama 10 tahun dengan harga yang lumayan besar.
Di bawah bendera Seroja Printing . Era mulai mengibarkan kemampuannya menjadi pelaku usaha percetakan yang sangat diperhitungkan. Hanya jarak yang tidak begitu lama, keberuntungan usahanya tumbuh pesat. Ia mampu menambah sarana permesinan offset printing dan digital semakin modern, serta membuka usaha yang sama di beberapa kota besar. Omset layanan jasa percetakannya diperkiran puluhan miliar dalam satu tahun.
Usaha Travel Umroh dan Haji
Kegelisahannya mengembangkan bisnis belum berhenti . Setelah berhasil membangun kerajaan bisnis percetakan, ia mulai merambah bisnis baru Travel dan Layanan perjalanan haji dan Umroh. Model bisnis travel dirancang dengan pola jaringan pemasaran yang produktif. Ia fokuskan pengembangan kemitraan di setiap institusi dan daerah , memungkinkan semua calon mitra dapat membuka dan menjalankan usaha travel haji dan umroh secara mandiri.
Dibawah perusahaan PT Moza Era Travel, Era sering mengorganisir keberangkatan rombongan para Jemaah haji dan umroh ke tanah suci. Jaringan trasportasi dan akomodasi yang dibutuhkan dikembangkan demi meningkatkan layanan para jamaah. Kepuasan jamaah menjadi sangat prioritas.
Bisnis perjalanan haji dan umroh banyak memberikan layanan kenyamanan peribadatan, berbeda dengan bisnis percetakan yang benar-benar mencari duniawi. Saya akan kembangkan bisnis ini untuk meningkatkan amal ibadah, sambung Era.
Paket-paket perjalanan haji dan umroh yang ditawarkan pun sangat beragam dan tentu yang membuat kenyamanan dan kepuasan para jamaah, ujar Era di kantor pusat usaha travel haji dan umroh di bilangan kota Tangerang. Kesuksesan Era ternyata berawal dari kegelisahannya untuk mengadu nasib di ibukota. Ia orang yang tidak pernah menunda pekerjaan sekecil apapun kesempatannya. Bukan mudah menyerah, setelah gagal membuat sabun cuci untuk pesanan hotel yang dianjurkan oleh senior alumninya saat ditampung di sekretariat alumni Ikatip Jakarta #red.ZAZ